kapok ketemu presiden
Agustus 22nd, 2008 by keboijoBerita tentang sesuatu yang biasa terjadi di negeri ini, tapi tetap membuat hati sedih
Yuni Veronika, gadis 11 tahun siswa kelas V Sekolah Dasar Negeri 09 Kuala Terusan, Riau, salah satu juara di 4th World School Chess Championship 2008 di Singapura bulan lalu terlunta-lunta di Jakarta.
Dia dan ayahnya yang diundang mengikuti Upacara Detik-detik Proklamasi di Istana Merdeka 17 Agustus lalu sebagai salah satu dari 11 anak berprestasi. Sehari setelah upacara, Yuni bersama anak teladan dan berprestasi lainnya bertemu langsung dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Ibu Ani Yudhoyono, dan Kabinet Indonesia Bersatu di JIEXPO, Kemayoran, Jakarta. Seusai upacara, panitia tidak lagi bertanggung jawab atas “keberadaan” mereka di Jakarta karena kata panitia yang ber”tanggung jawab”, “kehadiran Yuni di acara kepresidenan itu tidak ditanggung panitia”. Staf Direktorat Pembinaan TK-SD Departemen Pendidikan Nasional yang ber”tanggung jawab” itu menambahkan bahwa “Yuni sudah diberi tahu soal itu”, lalu ditutup dengan cuci tangan yang gilang gemilang “Seharusnya ini tanggung jawab Pengurus Daerah Percasi Riau”
Yuni dan ayahnya sudah empat hari tiga malam menggelandang di Jakarta tanpa tahu bagaimana caranya pulang ke Riau.
Menyedihkan. Panitia memberitahu kepada seorang anak umur 11 tahun, bahwa kehadirannya tidak ditanggung panitia. Saya tidak tahu bagaimana caranya panitia memberitahu, tapi kemungkinan besar Yuni tidak mengerti bahwa dia hanya akan “digunakan” selama diperlukan dan sesudahnya “terserah Anda”. Kalau panitia menjelaskan dengan sejelas-jelasnya, sudah pasti dia akan memberitahu orang tuanya dan pasti si ayah tidak akan mau repot-repot mengantar ke Jakarta, karena toh sudah jelas akan terlunta-lunta.
Saya kapok, tidak mau lagi bertemu Presiden.
Saya yakin, karena publikasi di koran Tempo, pastilah sekarang sudah ada orang yang membantu mereka pulang ke Riau. Semoga kejadian ini menjadi pelajaran bagi Yuni, keluarganya dan kita semua untuk lebih mencermati tawaran atau instruksi atau perintah yang datang. Saya tidak juga yakin kalau mereka ke Jakarta karena “ditawari”, mungkin juga mereka ke Jakarta karena “diminta”, bentuk halus dari kata “diperintah”.
Semoga Yuni hanya kapok bertemu Presiden (yang sebenarnya nggak penting-penting amat), dan tetap mau berprestasi dan menjadi juara catur dunia.
Yuni, kalau sudah jadi juara catur dunia yang terkenal nanti, kamu boleh koq menolak undangan ke Istana.